Thursday, May 16, 2013

Hanya Cerita

Rasanya lama banget ngga pernah nulis lagi di blog ini, semenjak sebelum UN kemarin.
Dan sekarang saya sudah resmi menjadi anak kelas 12 yang sedang menunggu pengumuman kelulusan dan SNMPTN..

Pengangguran? Nggak juga sih. Masih ada sekolah, walaupun cuma dari jam setengah 7 sampe jam 8 dan hanya di hari Senin-Kamis. Tapi SPPnya tetep 325ribu rupiah.
Habis sekolah biasanya les sama temen-temen ke Neutron dan seenaknya sendiri masuk kelas yang kita pengen hahaha.

Dan di hari kemarin, setelah mengerjakan soal TPA bersama-sama, guru saya menceritakan tentang suatu hal yang membuat hati saya miris. Tentang pengalamannya mendampingi adek-adek kelas saya yang baru saja mengikuti porseni madrasah, di suatu kota.
 

Singkat cerita, guru saya ini ditugasi untuk mendampingi peserta porseni madrasah se-Jawa Timur mewakili Kota Malang. Singkat cerita lagi, di cabang bulu tangkis putri, Malang lolos ke babak final. Kata guru saya, anak yang lolos ini cuuuuaaantik, pwuuuuutiiihhh. Gitu. Sebut saja namanya T.


Terus lawannya dari kota J. Kata guru saya, orangnya ini agak gi manaaaa gitu, semacam malesin. Dia ngga mau ngelempar koknya ke dekat T. Ya sekenanya aja mungkin gitu ya. Jadinya,  T harus jalan ngambil koknya. Padahal T selalu melempar, atau memukul ya, koknya ini ke deket lawannya yang dari kota J.

Singkat cerita lagi, kata guru saya, yang dari kota J ini nyewa orang untuk menjatuhkan mental T. Ada bapak tua gitu yang neriakin kata-kata yang menjatuhkan kota Malang. Terus guru saya lihat ada orang yang nabur bunga. Guru saya curiga.

Sewaktu pertandingan, bola yang diservice T ini selalu meleset.
Akhirnya T pun kalah.

Tiba-tiba, ada ibu yang bilang ke guru saya..
"Saya dukung Malang, soalnya anaknya Ibu ini cantik, sabaar banget lagi. Kalo dari Kota J sih udah biasa pake dukun bu. Kota saya juga pake dukun, tapi kalah, soalnya dukunnya kurang tua."


Rasanya, mendengar itu saya miris. Ini porseni tingkat madrasah. Sejak SD, pelajaran agama di sekolah selalu mengajarkan untuk tidak percaya kepada tahayul, sihir, apa pun itu jenisnya. Sampe saya sekolah di Madrasah Aliyah sekarang ini pun, pelajaran itu kembali diulang. Sebuah kesyirikan jika kita mempercayai kekuatan magis, apalagi sampai mempraktekkannya. Saya rasa, sia-sia menuntu ilmu selama kurang lebih 12 tahun, belum ditambah playgroup dan TK. Seperti sudah bekerja berhari-hari tapi tidak mendapatkan hasil apa pun.

Tidak heran jika moral bangsa kita ini rusak. Bukan hanya karena masalah pendidikan yang semakin disalah artikan, tapi juga 'semangat' untuk menghancurkan bangsa sendiri yang semakin besar.

Melihat kondisi seperti ini, sebagai pelajar yang akan menempuh jenjang pendidikan selanjutnya, saya malu melihat bangsa saya yang semakin hancur. Mungkin terlihat sebagai hal yang sepele, tapi bukankah hal yang besar selalu dimulai dari sesuatu yang kecil?

Baru-baru ini juga, saya mendengar tertangkapnya peserta tes salah satu universitas di Kota Malang yang ketahuan menggunakan joki untuk mengerjakan tes. Sebelumnya, saat musim tryout kemarin, saya cukup terganggu melihat teman saya yang bolak balik bertanya. UN kemarin pun, saya sampai bosan mendengar berita bahwa banyak siswa-siswi yang menggunakan kunci. Saya pun melihatnya sendiri.

Sepertinya, bangsa kita krisis kepercayaan diri. Apalagi kalau bukan itu alasannya? Mereka takut mendapatkan hasil yang jelek. Mereka takut jika gagal. Padahal, jika tidak melalui proses seperti itu, kita tidak akan belajar. Bukankah pengalaman itu adalah segala-galanya? Bukankah pengalaman adalah guru terbaik?

(..to be continued)

No comments:

Post a Comment